APCNG Minta Kendaraan BBG Bebas Ganjil-Genap

Jakarta – Asosiasi Perusahaan Compressed Natural Gas Indonesia (APCNG) meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan perlakuan yg sama terkait kendaraan berbasis gas (CNG) dalam kebijakan kendaraan ganjil-genap di Jakarta.

“Jika kendaraan berbasis listrik diberikan kebebasan dalam aturan mobil ganjil-genap, seharusnya kendaraan yg memakai gas bumi juga mendapatkan hak yg sama. Kendaraan berbasis gas juga terbukti ramah lingkungan, efisien dan bahkan bukan energi impor, sehingga menolong pemerintah dalam mengurangi subsidi impor BBM,” ujar Robbi R Sukardi, Ketua APCNG, dalam siaran persnya kepada .

Sesuai Instruksi Gubernur Nomor 66 Tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara, Pemprov DKI Jakarta membebaskan kendaraan listrik melewati jalur ganjil-genap. Gubernur Anies Baswedan beralasan kendaraan listrik tak ikut menyumbangkan emisi atau polusi udara.

Robbi menambahkan, ketika ini di Jakarta dan sekitarnya terdapat SPBG sebanyak 23 stasiun. Sementara terdapat lebih dari 11 ribu kendaraan yg sudah memakai gas bumi buat memenuhi kebutuhan sumber energinya.

“Banyak angkutan umum di Jakarta yg telah memakai gas bumi seperti Transjakarta, taksi dan bajaj. Seharusnya pemerintah memiliki komitmen yg sama bagi mendukung perluasan pemanfaatan gas buat sektor transportasi,” tambah Robbi

Jika dibandingkan Bahan Bakar Minyak (BBM), harga gas bumi buat kendaraan lebih efisien. Contohnya, ketika ini setiap sopir bajaj yg mengisi CNG baik di SPBG yg sudah dibangun oleh Pemerintah melalui Pertamina atau SPBG punya PGN, dan SPBG punya Pemda DKI Jakpro, dapat hemat Rp60.000-Rp80.000 per hari dari bahan bakar.

“Penggunaan gas bumi terbukti lebih efisien dan yg penting bisa mendukung perbaikan lingkungan seperti di Jakarta. Kami memberi apresiasi atas upaya dan inisiatif Gubernur Anies Baswedan bagi memperbaiki kualitas udara Jakarta dengan energi bersih,” tegas Robbi.

Dalam beberapa bulan terakhir, tingkat polusi di ibukota sangat tinggi. Misalnya, pada Minggu (11/8/2019), berdasarkan data AirVisual sekitar pukul 07.00 WIB, indeks kualitas udara atau air quality index (AQI) Jakarta sebesar 171, yg berarti sangat buruk.

Sumber: http://teknologi.inilah.com

Post Author: admin