Kivlan Zen Merasa Difitnah, Ini Tanggapan Polri

JAKARTA, – Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo menegaskan polisi sudah melakukan penyidikan secara profesional terkait perkara yg menyandung Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zen.

Dedi menanggapi pernyataan Kivlan yg merasa difitnah tentang keterlibatannya dalam penerimaan dana perkara dugaan rencana pembunuhan terhadap empat pejabat tinggi negara dengan tersangka Habil Marati (HM).

“Dalam hal ini, Polri tetap profesional melakukan proses penyidikan yg dikerjakan selama ini,” ungkap Dedi di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (19/6/2019).

Baca juga: Kivlan Zen: Saya Difitnah…..

Ia menuturkan bahwa penyidik tak cuma menggali informasi tersangka buat mencari fakta hukum.

Menurut Dedi, polisi sudah meminta informasi saksi hingga mendalami petunjuk yg ada.

“Polri sesuai dengan 148 KUHP dalam pembuktian, tak cuma menggali informasi tersangka, itu urutan kelima. Polri juga menggali alat bukti-bukti yg yang lain baik berupa informasi saksi, informasi saksi ahli, bukti petunjuk dan surat. Itu segala didalami oleh penyidik,” ujarnya.

Jika tak mengakui perbuatannya, Dedi menyampaikan bahwa hal tersebut yaitu hak konstitusional seorang tersangka. Nantinya, hal itu juga mulai dibuktikan melalui proses persidangan di pengadilan.

Baca juga: Menhan Minta Polisi Pertimbangkan Penangguhan Penahanan Kivlan Zen

“Kalau misalkan tersangka tak mengakui perbuatannya, itu yaitu hak konstitusional yg bersangkutan. Itu nanti juga mulai dibuktikan dalam proses persidangan pengadilan secara transparan, terbuka dan jurdil. Silakan,” kata Dedi.

Terkait perkara ini, Habil ditetapkan sebagai tersangka penyandang dana dalam perkara dugaan rencana pembunuhan terhadap empat pejabat tinggi negara.

Habil ditangkap di rumahnya di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada 29 Mei 2019.

Sementara itu, Kivlan Zen sudah ditetapkan sebagai tersangka perkara dugaan kepemilikan senjata api ilegal. Kivlan tengah menjalani penahanan di Rutan POM Jaya, Guntur, Jakarta Selatan, selama 20 hari.

Sumber: http://nasional.kompas.com

Post Author: admin