Mantan Ketua MK: Tekanan Psikologis Jadi Tantangan Paling Berat Tangani Sengketa Pilpres

JAKARTA, – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Hamdan Zoelva, menyebutkan, tantangan yg berat untuk hakim MK bagi menangani sengketa perselisihan hasil pemilu (PHPU) pemilihan presiden 2019, yakni tekanan psikologis.

“Tantangan yg paling berat menangani sengketa pilpres itu adalah tekanan psikologis dari kubu kanan dan kiri,” ujar Hamdan kepada , Senin (27/5/2019).

Menurut dia, berdasarkan pengalamannya ketika sengketa PHPU Pilpres 2014, sebenarnya perkara atau hal yg disengketakan sederhana dan tak rumit buat para hakim.

Baca juga: Ini Kata Presiden Jokowi soal Pernyataan Bambang Widjojanto

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-5112’); });

Namun demikian, lanjutnya, tekanan psikologis dari kedua kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden yg justru menjadi tantangan terberat ketika proses persidangan.

“Memang kalau dilihat dari pengalaman Pilpres 2014 lal tekanan psikologis jadi tantangan juga buat ketika ini (Pilpres 2019),” paparnya.

Hamdan menuturkan, tekanan psikologis itu berkorelasi terhadap independensi para hakim MK. Hal itu mengingat MK sebagai lembaga pemutus sengketa PHPU.

“Tantanganya adalah lembaga pemutus (MK) mampu dipercaya atau tidak. MK diharapkan jadi institusi hukum yg menjalankan fungsinya dengan baik,” ucapnya.

Baca juga: BPN: Jokowi Silakan Telepon Prabowo seandainya Ingin Bertemu

Terlebih lagi, lanjutnya, aksi massa yg terjadi 21-22 Mei 2019 juga diharapkan tak bersambung ketika persidangan di MK yg mulai digelar 14-28 Juni 2019.

Koridor hukum harus dijunjung tinggi dan bukan memakai aksi massa guna mengubah hasil pemilu.

“Lembaga peradilan adalah koridor bagi menyelesaikan persoalan pemilu. Marilah kalian gunakan koridor ini,” tegasnya.

Baca juga: Untuk Mengubah Hasil Pemilu, Prabowo-Sandiaga Harus Buktikan 10 Juta Suara Jokowi-Maruf Milik Mereka

Kubu Prabowo Subianto-Sandiaga telah mengajukan sengketa hasil Pilpres 2019, yg memenangkan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

KPU sebelumnya memutuskan rekapitulasi hasil penghitungan dan perolehan suara tingkat nasional bagi Pilpres 2019 dalam sidang pleno pada Selasa (21/5/2019) dini hari.

Hasilnya, pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin menang atas paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Jumlah perolehan suara Jokowi-Ma’ruf mencapai 85.607.362 atau 55,50 persen. Perolehan suara Prabowo-Sandi sebanyak 68.650.239 atau 44,50 persen.

Selisih suara kedua pasangan mencapai 16.957.123 atau 11 persen.

Sumber: http://nasional.kompas.com

Post Author: admin