Megalomania

Tersebutlah seorang pemimpin dari negeri pelangi. Seorang pemimpin yg suka meninggikan dirinya sendiri. Pamer kuasa bak seorang raja. Senang disanjung, dipuja, dan dipuji.

Orang-orang selalu memuliakannya. Tak heran kalau pemimpin ini begitu angkuh dan arogan. Tak seorang pun berani mengkritik, apalagi mencela.

Tanpa disadari, pemimpin ini tampak cuma mementingkan kemuliaan dirinya saja. Sebaliknya, simpatisannya diabaikan.

Megalomania

Perilaku pemimpin tersebut memamerkan seorang pemimpin yg mengidap megalomania. Megalomania sejenis gangguan mental yg membuat pengidapnya terus membesarkan dirinya secara berlebihan sehingga tertanam pada dirinya paling hebat, paling unggul, paling berkuasa. 

Pengidap megalomania terus ingin dihormati dan disanjung. Sebaliknya, tak mau dikritik atau dicela. Menghadapi pengidap megalomania memang harus ekstra hati-hati.

Ciri-ciri megalomania

Cirinya merupakan suka memandang dirinya berlebihan, merasa superioritas, terus ingin jadi pemimpin yg senang disanjung, ingin dihormati, menganggap dirinya paling benar, haus kekuasaan, menolak kritik,  ego tinggi, suka meremehkan orang lain, sombong, arogan, emosional.

Gangguan kepribadian

Pengidap megalomania mampu jadi milik gangguan kepribadian. Pendiri aliran psikoanalisis Sigmund Freud (1856-1939) menyampaikan bahwa megalomania termasuk narcissistic  (narsisistik),  mengagungkan diri sendiri secara berlebihan.

Rita L. Atkinson dkk dalam buku Pengantar Psikologi (1993:281)  menyebutkan bahwa megalomania termasuk narcissistic personality disorder (gangguan kepribadian narsisistik).

Gangguan kepribadian ini menggambarkan pengidap megalomania sebagai orang yg mempunyai ambisi pribadi yg melambung tinggi yg dipenuhi dengan khayalan-khayalan sukses. Selain itu, terus mencari pujian dan perhatian. Tidak peka terhadap kebutuhan orang lain, malahan kadang mengeksploitasinya. 

Tak dapat disembuhkan

Menurut pakar psikologi politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk (Tempo.com, 24 Juli 2014, Muhammad Muhyiddin) menyampaikan bahwa pengidap megalomania tidak mampu disembuhkan.

Alasannya, pengidap megalomania sulit menerima kenyataan yg terjadi pada dirinya. Misalnya kalah dalam pertandingan, tidak begitu saja diterimanya. Malah menuduh pihak yang lain yg bermain curang terhadap dirinya. Kalaupun tetap dianggap kalah, pengidap megalomania merasa dirinya dizalimi.

Dengan demikian, pengidap megalomania tak berjiwa besar, karena kebenaran cuma ada pada dirinya sendiri. 

googletag.cmd.push(function() { googletag.display(‘div-gpt-ad-974648810682144181-4112’); });

Sumber: http://nasional.kompas.com

Post Author: admin