Adira Finance Dapat Pinjaman US$350 Juta

Jakarta – PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) mendapat fasilitas pinjaman sindikasi sebesar US$350 juta di Singapura buat mendukung pertumbuhan bisnis pembiayaan sebesar 5 sampai 10 persen pada 2019.

“Kami berhasil merampungkan pinjaman sindikasi ketujuh di tahun 2019. Seperti tahun lalu, fasilitas ini mulai dipergunakan bagi mendukung bisnis pembiayaan di Indonesia, dan digunakan buat menolong pencapaian pertumbuhan pembiayaan sebesar 5 persen-10 persen di tahun 2019,” kata Hafid Hadeli, Direktur Utama Adira Finance, dalam informasi tertulisnya.

Dia menjelaskan, pinjaman itu diberikan berkat pengaruh Indonesia dalam ekonomi global yg makin kuat, sehingga mendorong bank-bank luar negeri bagi memberikan fasilitas kepada perusahaan-perusahaan Indonesia dengan kinerja yg mumpuni.

Kepercayaan investor terhadap Adira Finance tetap kuat, kelihatan dari penerbitan pinjaman sindikasi yg mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) sekitar dua kali dari rencana awal.

Pinjaman itu juga berhasil menarik minat investor asing yg kebanyakannya berasal dari Singapura, Taiwan, dan Jepang. Fasilitas US$350 juta dengan tenor tiga tahun itu memperoleh tingkat bunga yg kompetitif.

Dalam proses penerbitan pinjaman sindikasi itu, Adira Finance menunjuk BNP Paribas, DBS Bank Ltd, Maybank Grup, MUFG Bank Ltd, dan United Overseas Bank Limited, sebagai mandated lead arrangers dan bookrunners.

“Adira Finance selalu mendiversifikasi sumber dananya sehubungan dengan pertumbuhan kebutuhan pendanaan perusahaan. Investor kalian berasal dari berbagai negara seperti Jepang, Singapura dan Taiwan,” ujar I Dewa Made Susila, Direktur Keuangan Adira Finance.

Seperti tahun-tahun sebelumnya sejak penerbitan pinjaman sindikasi pertama, perusahaan mulai melakukan lindung nilai penuh (fully-hedged) ke dalam mata uang rupiah bagi memitigasi risiko mata uang (currency risk) dan suku bunga (interest rate risk), mengingat kegiatan pembiayaan Adira Finance memakai mata uang rupiah dan suku bunga pembiayaan yg tetap.

“Adapun fasilitas pinjaman dalam mata uang asing memberikan kontribusi sebesar 36 persen atas pendanaan sendiri perusahaan yg mencapai Rp22 triliun pada akhir tahun 2018,” kata Made Susila.

Dia menambahkan, sekitar 18 persen pendanaan sendiri yaitu pinjaman dari bank lokal dan 46 persen berasal dari pendanaan pasar modal berupa obligasi dan sukuk mudharabah.

“Dengan gearing ratio pada level 3,1 kali, perusahaan memiliki ruang gerak yg luas dalam mencari pendanaan ke depannya buat memenuhi kebutuhan penyaluran pembiayaan baru,” pungkasnya.
Sumber: http://teknologi.inilah.com

Post Author: admin