Panasonic Akhirnya Jual Unit Bisnis Semikonduktor

Osaka – Setelah berkiprah selama puluhan tahun di industri semikonduktor, Panasonic akhirnya menetapkan bagi menyerah. Perusahaan yang berasal Jepang itu dikabarkan bakal menjual unit bisnis semikonduktor mereka yg selalu merugi.

Pembelinya adalah Nuvoton Technology yang berasal Taiwan, yg kabarnya mulai mengakuisisi bisnis semikonduktor Panasonic senilai US$250 juta atau sekitar Rp3,5 triliun.

Selama ini, bisnis semikonduktor Panasonic fokus memproduksi chip manajemen daya dan sensor kamera buat smartphone, mobil, dan kamera keamanan.

Pada tahun fiskal yg berakhir pada Maret lalu, bisnis semikonduktor Panasonic mencatat kerugian operasional sebesar 23,5 miliar yen (sekitar Rp3 triliun) dengan penjualan 92,2 miliar yen (sekitar Rp11,9 triliun).

Mengutip PetaPixel, Panasonic awalnya coba membalik peruntungan di bisnis semikonduktor, namun didera angka permintaan yg menurun menyusul perang dagang antara AS dan China.

Sementara itu, dalam industri sensor kamera, Panasonic tampaknya sulit bersaing dengan Sony yg menguasai 50 persen pasaran imaging sensor dan 70 persen pasaran sensor kamera smartphone.

Akhirnya keputusan pun diambil oleh Panasonic buat melego unit bisnis itu.

“Pilihan terbaiknya adalah melepas bisnis (semikonduktor) ke Nuvoton, karena lingkungan kompetitif di bisnis semikonduktor telah sangat parah,” sebut Panasonic dalam sebuah pernyataan tertulis.

Selain semikonduktor, Panasonic turut menyatakan bakal mundur dari area bisnis yang lain yg juga tak menghasilkan profit, termasuk produksi panel LCD yg mulai mereka hentikan pada 2021.

Ke depannya, Panasonic mulai fokus di bisnis-bisnis seperti baterai dan berbagai perlengkapan yang lain bagi mobil.

Sementara itu, Nuvoton Technology yg membeli bisnis semikonduktor Panasonic yaitu anak perusahaan Winbond yg memproduksi microcontroller, chip terkait audio, dan produk semikonduktor lain.

Panasonic pertama kali memasuki bisnis semikonduktor pada 1952. Penjualannya sempat memuncak karena banyak dipakai di perangkat TV pada dekade 1990-an dan 2000-an, tetapi semenjak itu kalah bersaing dari rival-rivalnya di Asia.
Sumber: http://teknologi.inilah.com

Post Author: admin