Tren Penyakit Tidak Menular Naik 70 Persen

Jakarta – Trend PTM (Penyakit Tidak Menular) meningkat sebesar lebih 70 persen.

Secara nasional PTM memiliki beban DALYs paling besar dibandingkan penyakit menular dan cedera.

Badan Litbangkes memperlihatkan peringkat teratas beban penyakit/ DALYs di 34 Provinsi di Indonesia tahun 2017 sebagian besar disebabkan oleh PTM merupakan stroke, penyakit jantung, penyakit paru obstruksi kronik dan diabetes melitus.

Hal ini sejalan dengan meningkatnya beban penyakit karena faktor risiko hipertensi, gula darah puasa, pola makan berisiko dan merokok.

“Lebih lanjut kalian mulai mendengarkan penjelasannya dari Kepala Badan Litbang.

Penyakit Tidak Menular semakin kadang ditemukan di masyarakat, bahkan ketika ini usia penderita PTM bergeser pada usia muda dan produktif,” kata Menkes Nila F. Moeloek pada peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS), di kantor Kemenkes, Kamis, (11/07/2019).

Akibatnya PTM yaitu salah satu tantangan besar dalam Pembangunan Kesehatan sekarang dan di masa mendatang. Sekitar 80 persen PTM diakibatkan oleh gaya hidup yg tak sehat, dan sisanya disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan.

“Contoh gaya hidup tak sehat adalah pola makan tak sehat, seperti kurang sayur dan buah, konsumsi gula, garam, dan lemak yg berlebih serta diperberat dengan aktifitas fisik yg kurang dan kebiasaan buruk mengkonsumsi rokok dan alkohol,” tambah Menkes.

Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) tahun 2017, sebanyak 10.801.787 juta orang atau 5,7 persen peserta JKN mendapat pelayanan bagi penyakit katastropik dan menghabiskan biaya kesehatan sebesar 14,6 triliun rupiah atau 21,8 persen dari semua biaya pelayanan kesehatan dengan komposisi peringkat penyakit jantung sebesar 50,9 persen atau 7,4 triliun, penyakit ginjal kronik sebesar 17,7 persen atau 2,6 triliun rupiah.

WHO tahun 2017 memamerkan bahwa di dunia setiap tahun terjadi kematian dini akibat PTM pada kelompok usia di 30 69 tahun sebanyak 15 juta.

Sebanyak 7,2 juta kematian tersebut diakibatkan konsumsi produk tembakau dan 70 persen kematian tersebut terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.

Kecenderungan peningkatan prevalensi merokok, kelihatan lebih besar pada usia muda dibandingkan pada usia dewasa.

Hasil pendataan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan keluarga ditemukan anggota keluarga yg merokok di rumah sebesar 55,6 persen, hal ini menjadi dasar upaya pengendalian konsumsi produk tembakau di Indonesia dikerjakan melalui kebijakan kawasan tanpa rokok buat melindungi masyarakat dari paparan asap rokok.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin