Indonesia Alami Penurunan Kecakapan Bahasa Inggris

Jakarta – Indonesia menduduki peringkat ke-61 dengan penurunan skor dari 51.58 pada tahun 2018 menjadi 50.06 di tahun ini.

Angka tersebut di bawah nilai rata-rata kecakapan bahasa Inggris kawasan Asia (53.00) atau peringkat ke-5 di bawah negara ASEAN lainnya seperti Singapura dengan skor (66.82), Filipina (60.04), dan Malaysia (58.55) di tingkat kecakapan Sangat Tinggi, serta Vietnam (51.57) di tingkat kecakapan Menengah.

Sementara itu, peningkatan skor kemampuan bahasa Inggris signifikan terjadi di beberapa wilayah di Indonesia seperti Yogyakarta yg menggungguli 23 provinsi lainnya di Indonesia, serta Bandung.

Atas pencapaian ini, EF Education First mulai menganugerahi predikat Best Region dan Most Improved Region kepada provinsi Yogyakarta dan Best City kepada kota Bandung melalui penghargaan EF EPI Best Awards 2019.

“Sesuai dengan misi EF Education First, merupakan Membuka Dunia Melalui Pendidikan, EF EPI menjadi salah satu upaya EF bagi turut berkontribusi dalam meningkatkan kecakapan bahasa Inggris di berbagai negara,” kata Dr. Minh Tran, Executive Director of Academic Affairs & Partnership EF Education First, Jakarta, Rabu, (11/12/2019).

Saat ini EF EPI sudah menjadi instrumen pengukuran terpercaya dengan data dan analisa komprehensif, yg mempublikasikan urutan atau ranking 100 negara di dunia berdasarkan tingkat kemahiran berbahasa Inggris di setiap negara.

Upaya EF lainnya adalah melalui program sosialisasi EF SET yg mulai diimplementasikan akan awal tahun 2020 di sekolah-sekolah menengah atas dan kejuruan di Indonesia.

Dengan menyosialisasikan EF SET, EF mulai menolong para siswa bagi mengetahui level kemahiran sekaligus meningkatkan kemampuan bahasa Inggris akan dari tingkat pemula hingga tingkat lanjut.

Kemahiran berbahasa Inggris memiliki korelasi dengan penghasilan individu yg diukur berdasarkan pendapatan per kapita negara-negara yg berpartisipasi pada EF EPI. Semakin tinggi tingkat kemampuan Bahasa Inggris suatu negara, maka semakin besar pula rata-rata pendapatan penduduk di negara tersebut.

Dalam beberapa dekade terakhir, Asia sudah menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi global, dipelopori oleh para pemimpin yg membangun hubungan internasional dan mendirikan perusahaan-perusahaan multinasional.

Hal ini juga diiringi dengan adanya transisi dalam industri di era revolusi industri keempat yg berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mendorong kebutuhan mulai Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas, salah satunya memiliki kemampuan bahasa Inggris yg lebih baik.

“Memiliki kemahiran berbahasa Inggris mulai memberikan peluang untuk kami buat mengakses berbagai ide, studi kasus, koneksi atau jaringan yg lebih luas. Selain itu, kemampuan ini juga memungkinkan setiap orang buat mengejar peluang karir lainnya sesuai dengan perubahan yg terjadi dalam perekonomian atau kehidupan individu itu sendiri,” tutup Minh.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin