Inilah Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat

Jakarta – Secara nasional Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) membaik dalam 5 tahun.

Hal tersebut yaitu hasil dari penghitungan IPKM 2018 yg bisa dimanfaatkan oleh pemerintah pusat bagi advokasi ke pemerintah daerah, menentukan prioritas daerah yg harus dibantu, dan persoalan spesifik daerah yg perlu diprioritaskan penanganannya.

“Bagi pemerintah daerah mampu digunakan sebagai bahan evaluasi dan pemicu perbaikan kinerja program di masing-masing daerah,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes, Dr. Siswanto, MPH, DTM, baru – baru ini.

IPKM 2018 dihitung dengan memakai model IPKM yg dikembangkan tahun 2013. Indeks ini mengikutsertakan 30 indikator kesehatan yg dikelompokan menjadi 7 sub indeks, yakni Kesehatan Balita, Kesehatan Reproduksi, Pelayanan Kesehatan, Perilaku Kesehatan, Penyakit Tidak Menular, Penyakit Menular, dan Kesehatan Lingkungan.

Sekitar 30 indikator penyusun IPKM mencerminkan capaian program dan sebagai potret capaian pembangunan kesehatan wilayah. Masih adanya kesenjangan antar wilayah memperlihatkan masih perlunya terobosan program buat meningkatkan capaian sehingga pembangunan kesehatan mampu dirasakan secara merata oleh semua masyarakat.

IPKM 2018 memamerkan pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia mengalami perbaikan dari IPKM 2013. Perubahan capaian IPKM 2018 dan IPKM 2013 salah satunya kelihatan pada Peningkatan nilai minimum dan maksimum. Peningkatan nilai minimum dari yg sebelumnya 0,2169 menjadi (IPKM 2013) menjadi 0, 3469 (IPKM 2018), sementara peningkatan nilai maksimum dari yg sebelumnya 0,7325 (IPKM 2013) meningkat jadi 0,7470 (IPKM 2018).

Peningkatan angka itu memperlihatkan kualitas kesehatan masyarakat di Indonesia meningkat dalam 5 tahun ini. Sebagai contoh, berdasarkan hasil IPKM 2018, peningkatan tersebut bisa dilihat pada 5 kabupaten/kota dengan IPKM tertinggi, yakni Gianyar (0.7470), Tabanan (0.7293), Kota Denpasar (0.7254), Badung (0.7170), dan Kota Salatiga (0.7139).

Angka tersebut lebih tinggi daripada IPKM 2013, yakni Gianyar (0.7352), Tabanan (0.6826), Kota Denpasar (0.6992), Badung (0.6546), dan Kota Salatiga (0.6573).

Berdasarkan komponen dan IPKM antar provinsi, ditemukan bahwa penyakit tak menular konsisten masih menjadi persoalan di hampir segala provinsi, serta disparitas antar kabupaten di dalam provinsi.

Siswanto menyampaikan IPKM 2018 ini diharapkan bisa digunakan sebagai salah satu alat buat monitoring dan evaluasi keberhasilan pembangunan kesehatan selama lima tahun, di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Hasil evaluasi tersebut diharapkan bermanfaat bagi memutuskan kebutuhan dan arah pembangunan kesehatan yg sesuai dengan besaran persoalan di kabupaten/kota.

“Perhatian segala pihak perlu mengarah pada pembangunan yg lebih merata dan berkeadilan mencakup segala tingkatan dalam dimensi sosial, ekonomi, budaya, dan geografik. Pembangunan daerah diharapkan bisa mengarah pada pembangunan yg lebih baik,” katanya.(tka)
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin