Ratusan Pegiat Kesehatan Dukung Konservasi Penyu

Jakarta Sebanyak 300 anggota komunitas atau pegiat kesehatan dan kebugaran di wilayah Jakarta dan sekitarnya turut ambil bagian dalam upaya pelestarian ekosistem penyu sambil berolahraga bersama.

Kegiatan yg berlangsung di Pasar Seni Ancol, Jakarta, Sabtu (7/12/2019) ini dikemas dalam acara bertajuk “Fit Festival for Sea Turtle” yg diselenggarakan oleh House of Metamorfit (HOM) bekerja sama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), serta didukung oleh Pasar Seni Ancol. Acara ini mengajak para peserta berolahraga bersama di alam terbuka yg terbagi dalam 5 sesi kelas merupakan Salsation, Pound Fit, Strong by Zumba, Zumba dan Aerobic yg dipandu oleh instruktur dari HOM.

Lewat kegiatan tersebut, komunitas yg ada dan masyarakat diberi pemahaman tentang pentingnya melindungi habitat penyu. Di antaranya dengan membenahi tata ruang yg tumpang tindih antara pemanfaatan kawasan pesisir dan pembangunan pantai, kebutuhan permukiman, budidaya, serta aktivitas manusia lainnya. Kehilangan habitat adalah salah satu ancaman paling serius untuk kelangsungan hidup penyu. Sebagian dari pembelian tiket kegiatan digunakan bagi mendukung konservasi penyu yg dikerjakan oleh YKAN.

“Setiap orang bisa menjadi “penjaga” alam dan berkontribusi terhadap keberlangsungan ekosistemnya. Dengan mengajak berolahraga di alam terbuka seperti ini, peserta mulai mendapatkan tubuh bugar dengan cara-cara yg menyenangkan di pantai dan bisa terinspirasi buat ikut menjaga alam, khususnya konservasi penyu,” kata Tasori Ithink dari House of Metamorfit, dalam informasi tertulis.

Enam dari tujuh spesies penyu yg tersisa di dunia, ada di Indonesia. Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), 6 spesies kini dalam kategori rentan, terancam punah, hingga sangat terancam punah. Penangkapan penyu, perdagangan cangkang dan telur penyu, adalah beberapa penyebab terancamnya satwa ini. Pembangunan yg tak terkendali juga menyebabkan rusaknya pantai-pantai yg utama untuk penyu bagi bertelur. Demikian juga habitat tempat penyu mencari makan seperti terumbu karang dan hamparan lamun laut selalu mengalami kerusakan akibat sedimentasi maupun kegiatan manusia.

“Ancaman terhadap kelangsungan penyu ada dalam setiap siklus hidupnya, dimulai dari ketika betina dewasa hendak bertelur hingga perkembangbiakan tukik atau anak penyu, dan kehidupan selanjutnya dalam fase remaja ke dewasa di perairan bebas. Yang paling memungkinkan untuk kami lakukan adalah mengadakan tempat yg aman untuk betina yg hendak bertelur merupakan pantai yg sepi, jauh dari kebisingan dan cahaya, serta mengelola sampah kami dengan benar. Khususnya sampah plastik, sehingga tak berakhir di laut yg yaitu ancaman yang lain untuk penyu selain dimakan, juga terjerat dan mengakibatkan kematian,”papar Sally Kailola, Head of Nature and People Partnership Yayasan Konservasi Alam Nusantara.

Perencanaan laut yg baik menyelaraskan kebutuhan ekonomi dengan tetap menjaga kelestariannya. Melestarikan alam dan semua makhluk hidup yg ada di dalamnya pun selaiknya menjadi misi setiap insan di muka bumi. Untuk itu kolaborasi dari berbagai pihak mulai membuat bumi ini tetap dapat dinikmati oleh generasi nanti. [adc]
Sumber: http://gayahidup.inilah.com

Post Author: admin